Bangsa Melayu Dan Sebatang LidiTengku Ryo RiezqanPernahkah kita sadari pulut kuning dan campuran kelapa dengan gula merah yang orang Melayu bilang sebagai inti, yang saat ini mungkin sedang kita nikmati lezatnya, yang dibuat karena ada syukuran, akikah, tepung tawar, pinangan atau lain sebagainya, yang merupakan kebudayaan orang Melayu juga sedang dinikmati di Malaysia, Brunei, Singapura atau Negara lain yang kuat dengan budaya Melayu ?
Peluh yang keluar dari kulit kepala dan wajah kita karena sedang menyantap kari kambing dan roti jala, juga sedang dialami seseorang di Riau, Palembang, Jambi, Pontianak , Medan atau daerah lain yang memiliki cita rasa Melayu disekeliling mata memandang.
Nak Kemane Pa’Cik ? Ape Hal ? Ape Nak Dibuat Tu ? , kalimat yang sungguh tak asing didengar di semua daerah dan Negara tadi, belum lagi songketnya, teluk belanganya, peci hitam, kebaya panjangnya yang mungkin hanya terlihat saat pesta adat, karena jins dan t-shirt lebih bersahabat untuk sehari hari, tapi pakaian tadi tetap ada walau dilemari dan siap untuk dipakai.
Nasihat nasihatnya, pantun dan kelakarnya, makian- makian nya, yang tak bisa dililit atau disembunyikan dibalik pakaian yang sedang trend.
Lidah yang tak bisa dibohongi, antara rasa gudeg dengan gulai lomak atau teh tubruk dengan teh tarik atau bunyi yang akrab ditelinga dan rasa dihati antara bunyi biola klasik dengan gesekan wak Nurdin saat meronggeng, tepak tepuk gendang dan hembusan nada dari akordeon, atau hanya sekedar senandung dari ibu ibu yang me-nimang nimang anaknya yang memang lebih menyentuh kita dengan cengkok khas Melayu ketimbang lengkingan suara Celine Dion atau kemerduan suara Krisdayanti.
Semua hal ini sudah ada dan mengalir dalam darah kita bahkan jauh sebelum kita dilahirkan menjadi orang Melayu, sesuatu yang taklah bisa kita tau dan pilih,itulah genetika kita, itulah jiwa dan raga kita, itulah tampuk kita, itulah jati diri dan rasa kebangsaan kita sebagai bangsa Melayu.
Namun begitu, hal hal itu bukanlah merupakan suatu kajian atau kenyataan yang bisa kita proklamirkan sebagai suatu kelebihan dari bangsa atau suku lain, tapi itulah kita dari sekian warna manusia yang patut kita syukuri.
Tapi rupanya resam itu tidak cukup kuat untuk menyatukan kita sebagai satu bangsa, batasan teritorial dari suatu daerah kecil hingga batasan sebuah Negara membuat kita terpilah pilah, suatu daerah atau negara selalu merasa lebih baik dari yang lainnya walaupun memiliki budaya dan resam yang sama, mungkin kita berbeda dalam profesi, pendidikan, taraf hidup,hukum, politik serta keadaan fisik lingkungan lainnya yang harus kita jalani dan ikuti tetapi sadarkah kita ada hal yang tidak bisa dibatasi oleh semua itu ?
Bila memang
“ Melayu itu bagaikan bunga yang melayukan dirinya bukan karena tersengat matahari atau tercabut dari bumi, tetapi ia dengan ikhlas merundukkan dirinya “ maka bisa dipastikan interaksi sosial yang harmonis akan tercipta, sebuah filsafat yang menjunjung tinggi sebuah penghargaan terhadap alam dan isinya tanpa dibatasi apapun.
Bangsa Melayu adalah bangsa yang besar, secara geografis dan populasi memang tidak bisa dipungkiri, ada lebih dari tiga wilayah Negara yang memiliki tingkat populasi penduduk yang menyatakan dirinya orang Melayu yang cukup tinggi dan beberapa Negara memiliki tonggak dari budaya dan sejarah Melayu, tetapi itu hanyalah faktor kuantitas, tetapi dari sisi kualitas dan entitas, patutkah kita disebut bangsa yang besar ?
Kenyataaan secara geografis, populasi dan ideologi bahwa bangsa Melayu adalah sebuah bangsa yan besar dan kuat sudah disadari oleh bangsa bangsa lain sejak dulu hingga sekarang, terutama bangsa bangsa yang pernah berurusan dengan kekuasaannya di wilayah populasi Melayu berada, untuk itu dibuatlah strategi pemilahan yang ditanam dalam cara pandang kebangsaan dan persaudaraan kita, sumber daya alam, manusia dan ilmu pengetahuan dan etika dari bangsa Melayu yang begitu kaya, dengan sedemikian rupa diredam dan disembunyikan dari pandangan kita, lihatlah syair syair dari mulai zaman Sultan Badarudinsyah bahkan jauh sebelumnya yang mungkin tidak terdokumentasi dinegri kita hingga Gurindam Dua Belas oleh Raja Ali Haji dari Penyengat, Tak Kan Melayu Hilang Di Bumi yang digoreskan oleh Hang Tuah, bukankah itu dari sebuah pemikiran yang mungkin lebih baik diterapkan ketimbang kajian filasafat dari Socrates atau Plato yang kita jadikan terapan dalam hukum dan politik kita saat ini ?
Seperti pepatah Melayu,
“Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, bumi Melayu tempat kita berpijak, apakah langitnya yang tak terbatas itu juga kita junjung sebagai paradigma berpikir dan bersikap ?
Puak Melayu bisa menyapu bersih perselisihan, keterbelakangan ekonomi dan politik hingga tak tertusuk duri bila melangkah, tak bergelumang lumpur dan debu saat bergulat dengan tuntutan hidup. Dengan menyadari kata “Melayu” bukanlah hanya sebuah kata penjelasan identitas tetapi merupakan filsafat yang tak kan pernah habis untuk digali, tapi itu semua mustahil terjadi bila kita berdiri masih seperti sebatang lidi.
( Sungai Rokan, Rantau Bais, Maret 2007. Tengku Ryo Riezqan )